“Apa lagi, Nirina?”
Gadis dengan garis wajah oriental itu
tak menjawab. Hanya menggoyang-goyangkan kakinya, resah.
“Tak ada yang salah dengan
perawakannya, kan? Tidak seperti lelaki yang terakhir datang.”
Nirina tersenyum. Pasti pikirannya
melayang ke kejadian tujuh bulan lalu, ketika seorang lelaki datang melamar.
Biyan, namanya. Kehadiran sosok tegap itu segera saja membawa kami pada
pertengkaran sengit,
”Aku tidak bisa.”
”Kenapa?” kejarku cepat. Ini bukan
pertama kali Nirina beralasan. Selalu ada saja kekurangan lelaki yang
melamarnya.
Kekanak-kanakan!
Terlalu serius. Lihat keningnya yang
terus-terusan terlipat!
Wajahnya aneh, tidak terlihat tulus.
Entahlah, dari caranya berjalan,
sepertinya dia tipe lelaki yang suka mendominasi perempuan!
Dan masih ada segudang alasan yang
keluar dari bibir tipisnya.
Pun tujuh bulan lalu, ketika aku
menerka-nerka keberatannya terhadap Biyan. Wajah lelaki itu simpatik, bahasanya
pun santun. Penampilannya memang terbilang biasa, tapi jelek pun tidak.
”Jadi, apa lagi, Nirina?”
Matanya!
Di tempat duduknya, Nirina
menggoyang-goyangkan kakinya, persis anak kecil. Tangan gadis itu berkeringat.
Jantungnya berdegup lebih keras.
Aku memperhatikan Biyan lebih lekat,
seandainya kamera, maka barangkali aku sudah menangkap wajah sederhananya
dengan zoom terdekat.
”Tidak ada yang salah dengan matanya!”
ujarku, setengah berbisik.
Nirina menggeleng-gelengkan kepala.
Kerudung segi empatnya terusik.
Gemas, aku tak lagi bicara. Percuma, toh
Nirina lebih sering tak mendengar perkataanku.
Kulihat mereka masih bercakap-cakap,
tapi tak ada perkembangan. Upaya kedua orang tua Nirina untuk mengarahkan
obrolan ke tingkat lanjutan pun tak menampakkan hasil.
Lima belas menit kemudian, Biyan pamit.
Selesai sudah, pikirku. Nirina
memang terlalu.
”Jangan menyebutku terlalu!” protesnya
cepat.
Seperti biasa Nirina selalu tahu
pikiranku, seperti aku selalu bisa menebak isi kepalanya. Kami memang teramat
dekat.
”Tapi kamu memang terlalu, Nirina.”
”Tapi, matanya….”
”Tidak! Bukan matanya. Ayolah, percuma
bohong di depanku.”
Nirina menyenderkan badannya di pintu
kamar. Kedua tangannya ditangkupkan ke wajah. Tak lama, bahunya mulai
terisak-isak.
”Tolong, jangan desak aku terus.”
Entah isaknya, entah memang waktu itu
sudah terlalu malam untuk berdebat. Aku mengalah.
Itu yang terjadi tujuh bulan lalu, tapi
tidak kali ini.
Rahangku mengeras. Apapun yang terjadi,
pokoknya aku sudah bertekad untuk mempertahankan pendapatku mati-matian. Demi
kebaikan gadis itu. Nirina tidak bisa terus-terusan begini. Tidakkah dia sadar
usia yang terus melaju tanpa hambatan?
”Aku tahu,” desisnya lemah.
Aku gembira mendengarnya. Sungguh.
Tidak ada yang lebih menggembirakanku selain keberanian Nirina untuk jujur pada
dirinya sendiri.
”Ya, bagus begitu. Mantapkan hatimu,
Nirina.”
Nirina tak menjawab. Matanya sesekali
mencuri pandang ke arah lelaki ke sekian yang masih terus bicara. Di antara
mereka, kedua orang tua Nirina sebaliknya berkali-kali justru melirik anak
gadisnya.
Mudah-mudahan kali ini berhasil,
barangkali begitu pemikiran mereka. Setidaknya Nirina belum meninggalkan teman
satu kantornya itu, meski sudah setengah jam lebih.
”See? Tidak jelek juga kan
memberi dirimu kesempatan. Setidaknya kalian sudah satu kantor, pasti lebih
mudah, sebab telah saling mengenal.”
Nirina tiba-tiba menggeleng.
Melunturkan keyakinan diriku barusan.
”Kami memang satu kantor, tapi beda
divisi. Dia orang baru malah. Tak banyak yang kutahu,” bisiknya dengan intonasi
yang telah kuhafal.
Tidak! Tuhan, jangan biarkan Nirina
menarik dirinya lagi. Kumohon….
Tapi Nirina mulai terlihat tidak
nyaman. Kedua kakinya bergerak-gerak lagi. Wajah gadis berkulit kuning langsat
itu kembali tak tenang. Puncaknya….
Jangan! Jangan begitu Nirina. Eh,
kembali, jangan pergi. Nirina…!
”Aku tidak bermaksud begitu. Bukan
maksudku menjadi perempuan yang selalu mengecewakan.”
Aku menarik napas panjang, bingung
harus menjawab apa.
”Kamu egois, Nirina. Suami impian tidak
akan datang jika kamu terus begini.”
Jawabanku yang tegas itu serta-merta
membuat Nirina terkesiap,”Benarkah?”
Aku mengangguk.
”Maafkan aku, bukan maksudku begitu.”
Aku tiba-tiba saja ingin tertawa keras.
”Jangan keras-keras. Telingaku tidak
tuli.”
Aku tetap saja tertawa. ”Nirina…
Nirina,” sebutku kemudian, masih dengan gelak yang tersisa,”kamu tidak harus
meminta maaf padaku. Memangnya, apa peduliku?”
Nirina terlihat tak mengerti.
”Dengar,” lanjutku lagi,”Tak peduli
apakah seorang Nirina menikah atau menjadi perawan tua, tidak banyak bedanya
bagiku. Toh kita tetap sama-sama, kan? Tidak ada yang bisa mengubah itu.”
Mata sipit memanjang milik Nirina
tampak bingung.
”Kamu egois, Nirina. Dengar, selama ini
kamu hanya mempedulikan perasaanmu, kemauanmu, dan lupa memandang sekitar.
Sekali-kali keluar dari dirimu, Nirina. Pandang sekelilingmu dengan mataku.
Lihat, betapa kecewanya wajah Papa dan Mama, setiap kali kamu menarik diri dari
proses mengenal lebih dekat calonmu. Bisa kamu lihat sekarang?”
”Kamu bohong!” Mata Nirina mendadak
berair.
”Itu yang sejujurnya, kamu tahu itu.”
Gadis itu menggeleng lagi. ”Tidak,
tidak. Kamu bohong. Papa dan Mama baik-baik saja, mereka dua orang tua yang
luar biasa. Tidak memaksakan kehendak kepada anak-anak mereka. Tidak seperti
banyak orang tua lain yang kutahu.”
Ketika Nirina meninggikan intonasinya,
dan mulai dengan serampangan membela diri, aku memilih bungkam. Tidur mungkin
jalan keluar yang baik. Tapi sebelum pergi, aku meninggalkan kalimat ini
padanya.
”Tidakkah setiap orang tua ingin
menjadi kakek dan nenek, Nirina? Kebahagiaan apa lagi yang bisa kita berikan
pada mereka, setelah kelucuan sebagai kanak-kanak menghilang?”
Nirina diam.
Tapi aku tahu, sebetulnya dia menyimpan
kalimatku baik-baik dalam ruang penting di hatinya.
Buktinya, seminggu kemudian gadis itu
kembali membuka diri. Padahal laki-laki yang datang kali ini sama sekali tidak
dikenal gadis itu. Mariska, kakak satu-satunya Nirina yang mengenalkan.
Tingginya cukup, berat badan sedang.
Alis hitam dan tebal, nyaris bertaut di dahi. Bibirnya sedikit kecokelatan,
namun tidak terlihat hitam oleh rokok. Sungguh memberi kesan awal yang baik
buatku, kuharap begitu juga buat Nirina.
”Ssst, siapa tadi namanya?”tanyaku,
sekonyong-konyong.
Nirina sedikit tersipu, namun
dijawabnya pertanyaanku dengan suara serupa bisikan,”Kamu tidak menyimak rupanya?”
Aku tertawa.”Tidak, sebab kamu sendiri
tidak ingat namanya, kan?”
Nirina kembali tersipu. Tapi aku senang
melihat semburat merah muda di wajahnya yang kuning.
”Bagus.”
Laki-laki itu menyebutkan namanya,
membuat pias merah jambu itu kembali memuai di wajah Nirina. Seperti
kanak-kanak yang tertangkap basah mencuri permen.
Aku tersenyum kecil melihatnya.
”Bagus ini teman Kak Riska waktu di
SMA, Nirina.”
Kami berpandangan, lalu berbarengan
ber’O’.
Setelah itu kata-kata mengalir, silih
berganti. Selama pertemuan itu pula, aku mencatat perubahan cukup besar pada
Nirina. Gadis itu terlihat lebih membuka diri, dan berusaha keras terlibat
dalam percakapan secara aktif.
Dia, misalnya, mau bertanya di mana
tempat tinggal pemuda bernama Bagus itu, lalu apa hobinya. Dan ketika Bagus
menyebutkan membaca sebagai hobi utama, mata memanjang milik Nirina berkerlap.
Nirina bahkan berani menanyakan
pekerjaan Bagus, juga keluarganya. Pemuda itu menjawab semua pertanyaan Nirina
dengan simpatik. Aku suka melihat cara berbicaranya yang begitu teratur, tidak
terburu-buru, santun tanpa perlu menjadi kaku.
“Ssst, kamu bertanya atau interogasi?”
godaku saat Bagus berpamitan.
Awalnya Nirina tertawa saja. Tapi
sewaktu jam demi jam berlalu, gadis itu berangsur tak tenang.
“Tidak perlu cemas begitu, Nirina.”
Gadis kesayanganku itu seperti tak
mendengar, terus mondar-mandir di kamarnya yang berukuran 3 x 4. Lalu tak
berapa lama, setelah Mariska pulang, kecemasan Nirina berubah menjadi
kepanikan.
”Hey… hey… tenang saja, Nirina.”
Nirina menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kamu betul, aku terlalu agresif tadi. Harusnya tidak begitu. Ya Allah… lihat
kan wajahnya begitu lega ketika pertemuan berakhir? Seharusnya aku lebih
menahan diri, dan tidak bersikap seperti seorang polisi yang melakukan
investigasi.”
Belum pernah kulihat Nirina segundah
itu. Berkali-kali tangan rampingnya ditepukkan ke kening.
“Duh, bodohnya aku!”
“Tenang,”
“Tapi tadi kamu sendiri yang bilang
begitu, kan?”
Aku garuk-garuk kepala, benar sih. Tapi
tadi kan aku hanya menggodanya saja.
”Sekarang dia akan melihatku tak
ubahnya aggressor, seperti Israel terhadap Palestina.”
”Kamu berlebihan, ah.”
”Ok, seperti striker di lapangan
terhadap kipper?”
”Ini bukan pertandingan bola, Nirina.
Tenanglah.”
”Sekarang dia akan berubah pikiran,”suaranya
mengandung penyesalan.
Aku terenyuh mendengarnya. Suara gadis
itu barusan terdengar tulus, pekat dengan kekhawatiran. Seolah berkata,
dia telah menemukan suami impian.
Padahal ini baru pertemuan pertama.
Alhamdulillah.
”Tapi, bagaimana jika Bagus tidak
kembali?”
”Gampang saja,” sahutku mencoba
menenangkannya.
”Maksudmu?”
”Ya, setelah semua kecerewetanmu tadi,
siapa yang sudi kembali?”
Nirina shocked, tapi aku
tertawa.
“Hey… hey. Aku cuma bercanda, kok.”
Bibir gadis itu menyungging senyum. Hanya
sekilas sebelum mendung kembali menggayuti, dan membuat paras Vic Zhounya
murung.
Syukurlah kekhawatiran gadis itu tak
terbukti. Beberapa hari kemudian, pemuda bermata hitam yang memiliki alis tebal
itu datang lagi. Mariska kembali menemani percakapan dua anak muda itu, bahkan
Papa dan Mama belakangan ikut meningkahi obrolan ketiganya.
Raut wajah Nirina cerah, aku senang
merasakan hatinya yang melonjak-lonjak. Tampaknya pemuda ini memiliki kecocokan
dengan Nirina, dan bisa memenangkan kunci hati gadis itu.
Pada pertemuan kelima, Bagus membawa
kedua orang tuanya, dan mengajukan niatan. Mariska memang tak salah pilih
makhluk untuk menikahi adiknya. Bagus tak seperti kebanyakan pemuda yang cuma
mau pacaran, sebaliknya cowok itu dengan terus-terang mengemukakan
keinginannya untuk memperistri Nirina.
Tibalah saatnya semua mata tertuju pada
Nirina, yang sejak tadi menundukkan wajah mungilnya, yang hari itu dibalut
kerudung ungu muda.
Diam-diam aku juga seperti mereka,
menunggu. Berdoa, agar Nirina tak lagi ragu. Kemudian pelan-pelan kami melihat
Nirina mengangkat wajahnya. Sebutir embun menggenang di kedua mata sipitnya.
Dan seperti sulit dipercaya, Nirina kemudian menganggukkan kepala.
Yes! Yess! Yesss!
Aku bersorak paling kencang, meski
sepertinya tak ada yang mendengar, kecuali Nirina sendiri.
Rapat kilat dilakukan, tanggal pun
ditentukan. Hanya dalam waktu dua pekan sebuah pernikahan siap digelar. Aku
betul-betul salut melihat kegigihan dan ketenangan pemuda bernama Bagus itu.
Ketenangan yang perlahan mengalir pada diri Nirina, dan memberinya kemantapan
hati.
Nirina… Nirina… akhirnya! desisku di antara
peluk cium, Kakak, Papa, dan Mama. Kegembiraan serupa memancar dari wajah kedua
orang tua Bagus, juga pemuda itu sendiri.
Begitulah, hari demi hari setelahnya,
aku mencatat keriangan Nirina. Antusiasmenya dalam memilih undangan, mengurus
sendiri ke percetakan, terkadang ditemani Bagus dan adiknya. Lalu mencari
masjid tempat akad nikah dilakukan. Juga menyewa tempat resepsi besar, sesuai
keinginan kedua orang tua Nirina. Aku sendiri tak heran, maklumlah mereka dua
keluarga besar. Tentu banyak yang akan protes jika tak diundang.
Hingga hari H tiba.
Sejak malam sebetulnya aku menangkap
sesuatu yang lain. Bukan kecemasan seperti yang sudah-sudah, meski udaranya
nyaris serupa. Nirina, seperti menunggu sesuatu.
Salat malam dilakukan gadis itu, dengan
sujud-sujud panjang. Lalu tangannya menengadah. Usai tahajud, gadis itu membuka
jendela, dan matanya menerobos dalam kegelapan, seolah mencari-cari sesuatu.
Bahkan hingga Subuh berkumandang, detak jantungnya kembali berbunyi keresahan,
agak berbeda, tapi nyaris seperti yang lalu-lalu.
Mulanya aku tak mau bicara. Kubiarkan
saja dia merenungi masa-masa terakhir sebagai seorang gadis. Lusa dia akan
terbangun dengan seorang pendamping di sisinya, dalam dunia yang sama sekali
berbeda. Bahkan sejak mereka masuk ke peraduan.
Harusnya, Nirina bahagia. Kenyataannya?
Lepas salat Subuh, ketika Mama
menggedor kamar Nirina, menyuruhnya mandi, Nirina melakukannya setengah hati
saja. Begitu pun ketika Mariska mengingatkannya agar segera keluar kamar, untuk
dirias sebagaimana pengantin umumnya, Nirina menunjukkan sikap enggan.
Aku tak tahan lagi berdiam.
”Nirina, kenapa lagi?”
Wajah orientalnya tampak cantik dalam
lipstik warna merah jambu. Tapi gadis itu masih saja tepekur di pinggiran
ranjang pengantin yang sudah dihias dan menyebarkan wangi melati.
”Kamu harus ganti baju, Nirina.”
Kepalanya tertunduk,”Ya, aku tahu.”
”Lalu? Jangan katakan kamu ragu lagi.”
Nirina tak menjawab, kedua kakinya digoyang-goyangkan
hingga ranjang sedikit terayun. Sikap yang kontan membuatku merasa cemas.
”Kamu tidak ragu lagi, kan? Tidak
berubah pikiran, kan?”
Nirina menggelengkan kepalanya.
”Lalu apa? Ada apa?”
Nirina mengembuskan napas berat.
”Entahlah… aku rasa… aku….”
Kalimatnya terhenti, gadis itu menarik
napas lagi.
”Kenapa denganmu?”
Nirina melompat dari tempat tidur. Barusan
suara Mama menyuruhnya berpakaian, terdengar lagi.
Tangan Nirina menarik resleting kebaya
putihnya. Lalu masih tetap dengan wajah murung, memakainya.
”Please, jangan sekarang,
Nirina. Jangan ragu ketika kamu sudah sedekat ini,” pintaku, setengah memohon.
”Aku tahu,”
”Lalu?”
”Aku tidak ragu, hanya saja…,” suaranya
kembali terputus teriakan Mama. Nirina menjawab panggilan orang tuanya tanpa
membuka kamar. ”Sebentar, Ma….”
”See? Semua orang gugup hari
ini, Nirina, apalagi kamu. Itu wajar!”
Nirina tak menjawab. Gadis itu kini
telah selesai berpakaian. Dipandangnya sosok kecil mungil dalam balutan kebaya
berwarna putih gading, dan kain batik di depan cermin. Selembar kain schiffon
sebagai pelengkap jilbab dikenakannya tanpa ekspresi.
Ahh, aku tak suka melihat wajah
cantiknya yang masih saja murung.
”Kalau bukan ragu, apa lagi?” kejarku
setelah beberapa saat kami hanya berdiam.
”Aku menunggu pertanda.”
”Apa?” teriakku kaget,”Pertanda?”
”Ya!” jawabnya tegas,”Pertanda dari
Allah, bahwa Bagus memang suami impian, laki-laki yang dipilihkan-Nya untukku!
Apa itu salah?”
Fhew. Nirina sungguh
menguras kesabaranku.
“Dan kamu belum mendapatkannya? Selama
obrolan lima kali dengan calonmu itu, tidakkah kamu bisa menangkap pertanda?”
Nirina menggeleng.
Ya Allah. Aku makin kesal dibuatnya.
“Maksudku bukan itu, tapi pertanda.
Sesuatu yang bisa membuatku lebih mantap, sebab tahu memang dialah pilihan
dari-Nya.”
“Pertanda, ya? Pertanda?!”
“Ya… sudah sejak semalam aku
memikirkannya.”
“Kenapa tidak mencari pertanda ketika
tanggal belum lagi ditetapkan?”
“Tidak bisa.” Kepalanya menggeleng
lagi, ”Sebab kali ini aku tak punya alasan. Tidak matanya, tidak cara
berjalannya, tidak sikapnya, tidak dahinya yang selalu berkerut, tidak ada!”
Bagus nyaris sempurna di mata Nirina.
Sosok suami yang diimpikannya. Aku tahu pasti itu.
”Kalau begitu, ini cuma alasan yang
dicari-cari!” teriakku dengan suara tertahan.
Sementara matahari terus bergulir. Di
luar kamar sudah terdengar suara riuh sanak saudara yang datang untuk mengantar
Nirina ke tempat akad nikah, sekaligus resepsi. Pintu sudah berkali-kali
diketuk, tapi Nirina belum keluar juga. Dan alasannya cuma satu: gadis itu
belum menemukan pertanda!
Ini gila!
”Jangan menyebutku begitu. Sudah
kubilang ini cuma masalah waktu. Pertanda itu pasti datang.”
”Seperti apa?”
Nirina mengangkat bahunya. ”Entahlah,
tapi mungkin aku akan mendengar orang-orang menyebut kata ’bagus’ berkali-kali,
atau awan tiba-tiba membentuk inisial nama kami berdua, atau….”
”Atau kamu tiba-tiba melewati mobil
pengantin lain, atau melewati toko kue di mana terlihat kue pengantin tiga
tingkat disana, atau sekawanan burung-burung terbang di langit membentuk wajah
calon suamimu itu… atau…,” ujarku asal.
Nirina mengangguk. ”Ya, seperti itulah.
Apa pun yang bisa dijadikan pertanda.”
Aku benar-benar hilang akal, Nirina
kenapa tidak mendengar kata-kataku, sekali ini saja!
”Cobalah mengerti, terlalu banyak yang
harus aku pertaruhkan,” ujarnya mencoba meyakinkanku, ”Bagaimana kalau Bagus
tak sebaik yang kita duga? Bagaimana jika dia sudah punya istri dimana-mana,
bagaimana jika dia nanti ternyata suka memukuli istri? Atau ternyata pernah
terlibat mafia di luar negeri, atau merampok bank?” Suara Nirina meninggi, di
sela ketukan pintu yang kembali terdengar.
”Kamu kebanyakan nonton infotainment!”
sergahku cepat.
Ketukan di pintu berulang lagi.
Ritmenya kian cepat. Orang-orang pasti mulai tidak sabar.
”Nirina….”
Itu suara Mama.
Nirina diam, aku tahu dia menungguku
mengucapkan sesuatu.
“Kalau begitu, cari kelebihannya
Nirina. Pusatkan pikiranmu pada kebaikan-kebaikannya, itulah pertanda! Itulah
alasan kenapa kamu harus menikah dengan Bagus.”
Nirina diam, aku tahu dia sedang
berpikir keras.
Tetapi tak ada waktu, suara ketukan di
pintu kini telah berupa gedoran.
Nirina harus segera mengambil
keputusan. Sebentar lagi pintu mungkin didobrak dari luar. Mereka bisa saja
mengira gadis itu telah pingsan di kamarnya karena nervous.
Di tepi ranjang, Nirina masih berpikir.
Mengetahui itu aku menjadi lebih semangat mengembuskan pikiran demi pikiran.
Sikapnya yang sopan, Nirina.
Matanya yang tak liar ketika menatapmu.
Perhatikan bagaimana dia selalu menunggu
lawan bicaranya selesai, sebelum menanggapi.
Pikirannya yang cerdas telah menghemat
banyak biaya pernikahan.
Keinginan untuk memperistrimu
secepatnya.
Ingat senyumnya yang hangat. Matanya
yang teduh.
Kesabarannya menjawab
pertanyaan-pertanyaanmu. Juga keraguan yang beberapa kali melintas.
Lalu salatnya yang selalu tepat waktu.
Air mata Nirina menetes.
Aku mengangguk, ”Itu lebih dari
pertanda, Nirina. Allah mengirimkanmu seorang lelaki yang baik.”
Nirina mengikuti anggukanku.
”Well, mungkin tidak seganteng
Keanu Reeves, perawakannya pun tidak setegap Ade Ray, apalagi suaranya jika
dibandingkan Clay Aiken yang merdu, belum lagi….”
Nirina mengapus air matanya. ”Sudah,
sudah. Jangan membuatku kembali ragu,” potongnya cepat.
Aku setuju.
Di dalam mobil yang mengantarnya ke
tempat akad nikah, aku mendengar Nirina bersenandung kecil.
”Nirina….”
”Apa?”
”Tidak jelek kan menuruti kata hati?”
Gadis berwajah oriental itu mengangguk.
Lalu tersenyum lebih lebar. Menenangkan Papa dan Mama, yang sejak tadi tampak kebingungan
menyaksikan percakapan Nirina denganku sepanjang perjalanan. Barangkali
alasannya karena aku cuma sosok tanpa wujud. Ah, seharusnya sejak tadi aku
memperkenalkan diri pada mereka.
”Ehem… namaku nurani, atau….”
Aku masih berusaha memikirkan beberapa
nama lain, ketika sebuah suara yang akrab denganku sejak kelahirannya,
menyergah. ”Ssst… jangan berisik!”
Mengingatkanku akan prosesi yang
sebentar lagi dimulai.
No comments:
Post a Comment