Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan
alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke
belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang
terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan
Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata
sama herannya. “Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat
undangan. Saat
itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang
yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata
tertuju pada gadis itu. Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya
berpijar bagaikan lampu neon lima belas watt. Hatinya sibuk
merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut
Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia
hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu
gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan
spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus
adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama
terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk
melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua
berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah
berkeluarga membawa serta buntut mereka. “Kamu pasti bercanda!”
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana
sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo
dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania. “Nania serius! “ tegasnya sambil
menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli
memang melamarnya. “Tidak ada yang lucu”, suara Papa tegas, “Papa hanya tidak mengira Rafli
berani melamar anak Papa yang paling cantik!” Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat
Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab
setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata
penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya
pesakitan. “Tapi Nania tidak
serius dengan Rafli, kan?“ Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa
dengan nada penuh wibawa, “maksud Mama siapa saja boleh datang melamar
siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?”
Nania terkesima. “Kenapa?” “Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.” “Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!” ujar kaka tertuanya. “Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!” kakak keduanya pun angkat bicara. Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan. “Nania Cuma mau Rafli”, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah. Tapi kenapa? “Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.” Ucap Nania penuh haru.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya. “Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!” ujar sang mama. “Cukup!” Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka
mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana
harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat
Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang
telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya
menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia. Mereka akhirnya menikah.
***
***
Setahun pernikahan. Orang-orang masih sering menanyakan hal
itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia
lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan
kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka. Nania hanya merasakan cinta begitu
besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari
sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana
yang membuat perempuan itu sangat bahagia. “Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar
cinta Rafli pada Nania.” Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
“Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!” “Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!”
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
“Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!” “Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!”
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak
itu beradu argumen. “Tapi Rafli juga
tidak jelek, Kak!” “Betul. Tapi dia
juga tidak ganteng kan?” “Rafli juga
pintar!” “Tidak sepintarmu,
Nania.” “Rafli juga
sukses, pekerjaannya lumayan.” “Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.” Seolah tak ada apapun yang bisa
meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami
seperti Rafli. Lagi-lagi percuma. “Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu
sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu. ”Teganya kakak-kakak Nania mengatakan
itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu,
ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang
anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja
lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab
gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu,
ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup,
maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang. Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki
itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa
menangkap hanya maksud baik..
“Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?” Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
“Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?” Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak
orang. Bahagia! Pertanyaan kenapa
dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa,
berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi
mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak
penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan,
posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah
Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di
dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak! Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan
Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga
kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
“Sungguh beruntung suaminya. Istrinya
cantik.” “Cantik ya? dan
kaya!” “Tak imbang!”
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania
masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung
yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania,
atau membuat Nania menangis. Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah
lewat dua minggu dari waktunya.
“Plasenta kamu sudah berbintik-bintik.
Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!”
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang. Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. “Baru pembukaan satu.” “Belum ada perubahan, Bu.” “Sudah bertambah sedikit,” kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan. Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang. Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. “Baru pembukaan satu.” “Belum ada perubahan, Bu.” “Sudah bertambah sedikit,” kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan. Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru
pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka
terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban
pecah. Perkiraan mereka meleset. “Masih pembukaan dua, Pak!” Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa
menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi
perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
“Bang?...”
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. “Dokter?”
“Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.” Ujar Rafli Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal. Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
“Bang?...”
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. “Dokter?”
“Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.” Ujar Rafli Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal. Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari
luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir. Seorang dokter keluar, Rafli dan
keluarga Nania mendekat. “Pendarahan hebat!”
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis.
Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil
menenangkan orangtua mereka. Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki
itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh
darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa
bagi Nania. Sudah seminggu
lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit.
Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota
keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat
kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah boleh
membawanya pulang. Mama, Papa, dan
ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali
mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai
terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia
nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di
rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan
izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan
malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang
terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan
menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu
bercakap-cakap dan bercanda mesra. Rafli percaya meskipun tidak mendengar,
Nania bisa merasakan kehadirannya.
“Nania, bangun, Cinta….” Kata-kata itu dibisikkannya
berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak
keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang
setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan
istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah
sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan
itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
“Nania, bangun, Cinta….” Malam-malam penantian dilewatkan Rafli
dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal.
Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania,
semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli. Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran
Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang
lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus
akibat sering lupa makan. Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan
itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di
wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli
terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap
matanya. Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan
Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua
tak penting lagi. Rafli membuktikan
kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah
lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi
Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah
pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke
teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun
yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania
agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu,
memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali
Nania mengatakan itu tak perlu. “Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan
lumpuh?”
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun. Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun. Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka,
orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan
teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga
mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik. “Baik banget suaminya!” Lelaki lain mungkin
sudah cari perempuan kedua!” “Nania beruntung!” “Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa
adanya.” “Tidak, tidak cuma
menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta.
Sedikit pun tak pernah bermuka masam!”
Bisik-bisik serupa juga lahir dari
kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama. Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat
membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa? Tapi dia salah. Sangat salah. Nania
menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik,
barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu
kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan
anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak
melihat kocak permainan. Ya. Duapuluh dua
tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak
dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa
dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi
sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya.
Cinta
luar biasa dari laki-laki biasa yang
tak pernah berubah, untuk
Nania.
No comments:
Post a Comment